Laman

Kamis, 05 Mei 2011

Teknik Budidaya Jamur Tiram


Teknik Budidaya Jamur Tiram

Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur yang cukup populer di tengah masyarakat Indonesia, selain Jenis jamur lainnya seperti jamur merang, jamur kuping dan jamur shitake. Pada umumnya jamur tiram dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Jamur tiram adalah jenis jamur kayu yang memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur kayu lainnya. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fospor, besi, thiamin dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain. Jamur tiram mengandung 18 macam asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dan tidak mengandung kolesterol

Budidaya jamur tiram memiliki beberapa keunggulan dan kemudahan dalam proses budidayanya sehingga dapat dikelola sebagai usaha sampingan ataupun usaha ekonomis skala kecil, menengah dan besar (Industri). Negara-negara yang telah mengembangkan budidaya jamur tiram sebagai agrobisnis andalan dan unggulan adalah Cina, belanda, Spanyol, Prancis, Belgia dan Thailand. Negara-negara tersebut trermasuk produsen jamur terbesar di dunia.
Jika anda tertarik menekuni usaha budidaya jamur tiram ini, hal penting yang harus dipenuhi adalah menciptakan dan menjaga kondisi lingkungan pemeliharaan (cultivation) yang memenuhi syarat pertumbuhan jamur tiram. Hal lain yang penting adalah menjaga lingkungan pertumbuhan jamur tiram terbebas dari mikroba atau tumbuhan pengganggu lainnya. Tidak jarang pembudidaya jamur tiram mendapati baglog(kantong untuk media jamur tiram) ditumbuhi tumbuhan lain selain jamur tiram, hal ini disebabkan proses sterilisasi yang kurang baik dan lingkungan yang tidak kondusif.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk melakuka budidaya jamur tiram ini, tahapan pemeliharaan atau penanaman jamur tiram meliputi persiapan sarana produksi dan tahapan budidaya jamur tiram. Tahapan ini merupakan proses budidaya jamur tiram dari mulai pembuatan media sampai proses pemanenan jamur tiram. Jika anda tidak ingin repot menyemai benih, anda bisa membeli baglog yang sudah siap dengan benih jamur tiram yang sudah siap dibudidayakan.
Persiapan Budidaya Jamur Tiram
Bangunan/Ruangan Budidaya Jamur Tiram
Pada dasarnya bangunan bisa memanfaatkan ruangan yang ada dalm rumah, biasanya bangunan untuk budidaya Jamur Tiram bangunan jamur terdiri dari beberapa ruangan, diantaranya:
1. Ruang persiapan
            Ruang persiapan adalah ruangan yang berfungsi untuk melakukan kegiatan Pengayakan, Pencampuran, Pewadahan, dan Sterilisasi.
2. Ruang Inokulasi
            Ruang Inokulasi adalah ruangan yang berfungsi untuk menanam bibit pada media tanam, ruang ini harus mudah dibersihkan, tidak banyak ventilasi untuk menghindari kontaminasi (adanya mikroba lain).
3. Ruang Inkubasi
            Ruangan ini memiliki fungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah di inokulasi (Spawning). Kondisi ruangan diatur pada suhu 22 – 28 derajat C dengan kelembaban 60% – 80%, Ruangan ini dilengkapi dengan rak-rak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastic (baglog) yang sudah di inokulasi.
4.Ruang Penanaman
            Ruang penanaman (growing) digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur. Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal 16 – 22 derajat C dengan kelembaban 80 – 90%.
Peralatan Dan Bahan Budidaya Jamur Tiram
Peralatan yang digunakan pada budidaya jamur diantaranya, Mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, centong.
Bahan-bahan yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah Serbuk kayu, bekatul (dedak), kapur (CaCO3), gips (CaSO4), tepung jagung (biji-bijan), glukosa, kantong plastik, karet, kapas, cincin plastik.
            Dalam melaksanakan Budidaya Jamur Tiram ada beberapa proses dan kegiatan yang dilaksanakan antara lain:
1. Persiapan Bahan
            Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa.
2. Pengayakan
            Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat keseragaman yang kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miselia kurang merata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu di ayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk mengayak pasir (ram ayam), pengayakan harus mempergunakan masker karena dalam serbuk gergaji banyak tercampur debu dan pasir
3. Pencampuran
            Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 – 60 % atau bila kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini menandakan kadar air sudah cukup.
4. Pengomposan
            Pengomposan adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara membumbun campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastic
5. Pembungkusan (Pembuatan Baglog)
            Pembungkusan menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau menggunakan filler (alat pemadat) kemudian disimpan.
6. Sterilisasi
            Sterilisasi dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90 – 100 derajat C selama 12 jam.
7. Inokulasi (Pemberian Bibit)
            Inokulasi adalah kegiatan memasukan bibit jamur ke dalam media jamur yang telah disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah sterilisasi, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar + 3 sendok makan kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas. Bibit Jamur Tiram yang baik yaitu:
- Varitas unggul
- Umur bibit optimal 45 – 60 hari
- Warna bibit merata
- Tidak terkontaminasi
8. Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Jamur Tiram
            Inkubasi Jamur Tiram dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40 – 60 hari.
9. Panen Jamur Tiram
            Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya dan mempermudah pemasaran. (Galeriukm).
            Keunggulan jamur tiram cukup banyak, selain harga yang relatif mahal, tingkat keuntungan yang dihasilkan relatif tinggi, umur singkat, tanaman ini juga sangat laku di pasaran.

            Selain itu, keunggulan lainnya, cara budidaya mudah dan dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak memerlukan lahan yang luas. “Jamur tiram cukup toleran terhadap lingkungan dan dapat dijadikan sebagai pekerjaan pokok maupun pekerjaan sampingan,” kata Krisnadi, petani jamur tiram Pontianak.

            Diversifikasi produk jamur tiram cukup banyak dapat bentuk segar, kering, kaleng, serta diolah menjadi keripik, pepes, tumis, dan nugget.

Rantai budidaya jamur tiram dimulai dari; serbuk gergaji, pengayakan, pencampuran, sterilisasi, inokulasi, inkubasi, spawn running, growing, dan pemanenan.

            Krisnadi kemudian menjelaskan secara rinci mengenai budidaya jamur tiram. Untuk media tanamnya dapat berupa serbuk kayu (gergajian), jerami padi, alang-alang, limbah kertas, ampas tebu dan lainnya.

            Sebagai campuran dapat ditambahkan bahan-bahan lain berupa bekatul (dedak) dan kapur pertanian dengan perbandingan 80:15: 5. Media dimasukkan dalam plastik polypropilen dan dipadatkan kemudian diseterilisasi selama 10-12 jam. “Sterilisasi bertujuan untuk menekan pertumbuhan mikrobia lain yang bersifat antagonis dan menjadi penghambat pertumbuhan bagi tanaman induk dalam hal ini jamur tiram,” katanya.

            Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara memanaskan baglog dengan uap panas selama 8-12 jam pada suhu ± 95 °C. Setelah sterilisasi selesai, baglog didinginkan dalam ruangan tertutup selama 24 jam untuk menghindari kontaminasi baglog.

            Tahapan selanjutnya adalah proses inokulasi. Inokulasi adalah proses penularan miselium dari bibit (F3) ke media tanam. Proses ini dilakukan dengan steril dan dalam ruang inokulasi. Mengenai bibit, sebelumnya ia mendapatkannya dari Lembang dan Jogja. “Sekarang kami sudah bisa memproduksi sendiri,” katanya.

            Proses lanjutan yakni masa inkubasi yakni tahap penumbuhan miselia jamur. Proses ini memerlukan waktu kurang lebih 40 - 60 hari sampai baglog berwarna putih. Krisnadi menegaskan, suhu ruang inkubasi harus dijaga dalam kondisi yang stabil dan rendah cahaya 22- 28 °C dengan kelembaban 70 – 90 %.

            Setelah baglog berwarna putih merata, kemudian dipindahkan ke kumbung. Biasanya, umur baglog yang dipindahkan telah mencapai 40 hari.

            Proses penumbuhan tubuh buah diawali dengan membuka ujung baglog untuk memberikan 02 pada tubuh buah jamur. Biasanya 7-14 hari kemudian, tubuh buah akan tumbuh.

            Setelah 7-30 hari sejak penyobekan baglog akan tumbuh tubuh buah yang terus mernbesar hingga mencapai pertumbuhan optimal yang siap dipanen (3-4 hari).

            Kata Krisnadi, selama masa pemeliharaan suhu dan kelembaban udara harus dijaga dengan baik pada kisaran suhu 20- 22 °C dan kelembaban 95 - 100 %, dengan cara pengembunan kumbung.

            “Panen pertama 30 hari sejak penyobekan baglog, sedangkan pemanenan berikutnya setiap 10-14 hari. Tubuh buah yang sudah siap panen harus segara panen agar kualitas jamur baik,” katanya.

            Bagaimana penanganan pascapanen? Kata dia, segera bersihkan jamur dari kotoran yang menempel pada tubuh buah jamur. Hal itu bertujuan untuk menjaga daya tahan produk. “Jamur tiram segera disimpan dalam freezer agar tahan dalam waktu 1 sampai dua minggu,” katanya. Sementara untuk produk jamur kering, dilakukan penjemuran di bawah sinar matahari selama kurang lebih 5 hari.

Paket Pelatihan

            Krisnadi dan kelompoknya memang berkeinginan kuat mempopulerkan jamur tiram di Pontianak. Dia berharap, jamur tiram bisa menjadi ikon selanjutnya untuk Kota Pontianak.

            Dalam rangka pengembangan budidaya jamur tiram di Kota Khatulisiwa, Kelompok Pemuda Mushroom Prima yang digelutinya ini menerima peserta pelatihan budidaya.

Peserta pelatihan terdiri dari minimal lima orang dengan paket pelatihan selama empat hari.

MAKALAH DASAR - DASAR PENDIDIKAN

MAKALAH DASAR - DASAR PENDIDIKAN


KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas kebesaran dan ridhoNya saya dapat menulis dan menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ Dasar Dasar Pendidikan”. Sholawat dan salam tak lupa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai penuntun umat hingga akhir zaman.

            Adapun tujuan dari penulisan makalah ini selain sebagai tugas Mata Kuliah “Dasar Dasar Pendidikan ”, juga diharapkan mampu dijadikan wahana pelengkap khasanah keilmuan, baik bagi Penulis maupun bagi pembaca yang berkenan membaca makalah sederhana ini.

            Dalam penulisan makalah ini saya berupaya semaksimal mungkin agar kesempurnaan makalah ini menjadi kenyataan. Namun pada kenyataanya masih banyak kelemahan dan kekurangan yang ada. Karena saya sadar akan pribahasa “Tak ada gading yang tak retak”. Maka kritik dan saran yang konstruktif kami harapkan demi perbaikan dimasa mendatang.

            Akhirnya, Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin.


                                                                                                  Indramayu, 15 Januari 2011

                                                                                                                Penulis

DAFTAR ISI




KataPengantar............................................................................................................................ii
Daftar Isi.................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang………………………………..………………………………….. 4
2.
Rumusan Masalah……….…………………………..………………………….    5
3. Tujuan
Penulisan…...……………………….….………………………………     5

BAB II PEMBAHASAN
  1. Pengertian Motivasi Kerja ……………………………………………………………….     6
  2. Dasar-dasar Pokok Motivasi Kerja ……………………………………………………....    7
  3. Teori-teori Motivasi Kerja ………………………………………………………………. 8
  4. Meningkatkan Motivasi Kerja ……………………………………………….………… 13
E.     Sumber-sumber motivasi kerja terhadap kepuasan kerja ……….……………… 14

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………………………………..15
B. Saran .………………………………………………………….………………………..15
DAFTARPUSTAKA………………………………………………………………………16



BAB I
PENDAHULUAN

1.latar belakang
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Yang sudah barang tentu dalam menjalankan kelanjutan pendidikan tersebut harus ada alat sebagai pegangan yang salah satunya adalah adanya kurikulum.
Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu:
(1) filosofis;
(2) psikologis;
(3) sosial-budaya; dan
(4) ilmu pengetahuan dan teknologi.
Lembaga pendidikan pada umumnya adalah sarana bagi proses pewarisan maupun transformasi pengetahuan dan nilai-nilai antar generasi. Dari sini dapat terpahami bahwa pendidikan senantiasa memiliki muatan ideologis tertentu yang antara lain terekam melalui konstruk filosofis yang mendasarinya.Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka dalam membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurangnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri
Berdasarkan fakta tersebut diatas, sangat diperlukan pengkajian khusus yang membahas mengenai dasar dasar pendidikan
Disinilah, kemudian kami merasa perlu untuk menggali referensi dari buku-buku maupun internet yang pembahasanya mengenai dasar dasar pendidikan.Namun demikian, untuk mempersempit persoalan yang terkait dengan pembahasan yang begitu luas, maka kami membatasi pada rumusan masalah yang akan kami paparkan pada  item rumusan masalah di bawah ini.
A. Rumusan Masalah
Sebagaimana kami kemukakan diatas, pada alasan penyempitan pembahasan makalah ini, maka untuk mempersempit pembahasan yang terlalu luas pada paparan makalah ini. Kami cofer pada perumusan makalah di bawah ini. Adapun yang akan kami bahas pada makalah ini meliputi :
1.      Apa Pengertian dari Dasar dasar pendidikan?
2.      Sebutkan dasar dasar pendidikan?
3.      Apa hakekat dan teori pendidikan?

B. Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi dasar tujuan penulisan makalah dasar dasar pendidikan ini meliputi tujuan akademik dan tujuan apliktif yaitu :
1)      Tujuan Akademik, secara khusus penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “dasar dasar pendidikan” yang sebagai dosen pengajarnya adalah Ibu Kurnaengsih,M.Ag. Dan secara umum pembuatan makalah ini dalam rangka memperluas khasanah keilmuan khususnya mengenai dasar dasar pendidikan
2)      Tujuan Aplikatif, mengingant dari mayoritas Mahasiswa Fakultas Agama islam khususnya semester II ( DUA ) masih kurang dalam keilmuan tentang dasar dasar pendidikan dan Komponen-komponennya sehingga diharapkan makalah ini sebagai bahan kajian awal para mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu nya yang berhubungan dengan dasar dasar pendidikan. Juga diharapakan sebagai referensi keilmuan khususnya ilmu Agama islam
BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian dasar dasar pendidikan
Pendidikan bagi sebagian orang, berarti berusaha membimbing anak untuk menyerupai orang dewasa, sebaliknya bagi Jean Piaget ( 1896 ) pendidikan berarti menghasilkan, mencipta, sekalipun tidak banyak, sekalipun suatu penciptaan dibatasi oleh pembandingan dengan penciptaan yang lain. Pandangan tersebut memberi makna bahwa pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Dalam arti sempit pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan umunya di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Ilmu disebut juga pedagogik, yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu ” Pedagogics ”. Pedagogics sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu ” pais ” yang artinya anak, dan ” again ” yang artinya membimbing. Poerbakwatja dan Harahap ( 1982 : 254 ) mengemukakan pedagogik mempunyai dua arti yaitu : (1) peraktek, cara sesorang mengajar; dan (2) ilmu pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dan metode mengajar, membimbing, dan mengawasi pelajaran yang disebut juga pendidikan.
Orang yang memberikan bimbingan kepada anak disebut pembimbing atau ” pedagog”, dalam perkembangannya, istilah pendidikan ( pedagogy ) berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan kepada anak oleh orang dewasa secara sadar dan bertanggung jawab. Dalam dunia pendidikan kemudian tumbuh konsep pendidikan seumur hidup ( lifelong education ), yang berarti pendidikan berlangsung sampai mati, yaitu pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap saat selama ada pengaruh lingkungan. Untuk memberi pemahaman akan batasan pendidikan berikut ini dikemukakan sejumlah batasan pendidikan yang dikemukan para ahli yaitu :
(1) Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991 ).
(2) Dalam pengertian yang sempit pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan ( McLeod, 1989 ).
(3) Pendidikan ialah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup serta pendidikan dapat diartikan sebagai pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal ( Mudyahardjo, 2001:6 )
(4) Dalam pengertian yang agak luas pendidikan diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan ( Muhibinsyah, 2003:10 )
(5) Pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan ( seperti sekolah dan madrasah ) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap, dan sebagainya ( Dictionary of Psychology, 1972 ).
(6) Dalam arti luas pendidikan melipuyi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, dan ketrampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. Artinya pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya ( Poerbakawatja dan Harahap, 1981 ).
(7) Menurut John Dewey pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir atau daya intelektual, maupun daya emosional atau perasaan yang diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya.
(8) Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengenalan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ( UUSPN No. 20 Tahun 2003 ).
1. Hakekat dan Teori Pendidikan
Mudyahardjo ( 2001:91 ) menegaskan bahwa sebuah teori berisi konsep-konsep, ada yang berfungsi sebagai :
a. asumsi atau konsep-konsep yang menjadi dasar/titik tolak pemikiran sebuah teori
b. definisi konotatif atau denotatif atau konsep-konsep yang menyatakan makna dari istilah-istilah yang dipergunakan dalam menyusun teori.
Asumsi pokok pendidikan adalah :
a. pendidikan adalah aktual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar dab lingkungan belajarnya;
b. pendidikan adalah normatif, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal yan baik atau norma-norma yang baik, dam
c. pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa serangkaian kegiatan bermula dari kondisi-kondisi aktual dan individu yang belajar, tertuju pada pencapaian individu yang diharapkan.
Pendidikan dipandang dari sudut keilmuan tertentu seperti :
a. Sosiologik memandang pendidikan dari aspek sosial, yaitu mengartikan pendidikan sebagai usaha pewarisan dari generasi ke generasi.
b. Antrophologik memandang pendidikan adalah enkulturasi yaitu proses pemindahan budaya dari generasi ke generasi.
c. Psikologik memandang pendidikan dari aspek tingkah laku individu, yaitu mengartikan pendidikan sebagai perkembangan kapasitas individu secar optimal. Psikologi menurut Woodward dan Maquis ( 1955 : 3 ) adalah studi tentang kegiatan-kegiatan atau tingkah laku individu dalam keseluruhan ruang hidupnya.
d. Ekonomi, yaitu memandang pendidikan sebagai usaha penanaman modal insani ( human capital ) yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.
e. Politik yang melihat pendidikan adalah proses menjadi warga negara yang diharapkan ( civilisasi ) sebagai usaha pembinaan kader bangsa yang tangguh.
Pendidikan selalu dapat dibedakan menjadi teori dan praktek, teori pendidikan adalah pengetahuan tentang makna dan bagaimana soyogyanya pendidikan itu dilaksanakan, sedangkan praktek adalah tentang pelaksanaan pendidikan secara konkretnya. Teori pendidikan disusun seperti latar belakang yang hakiki dan sebagai rasional dari praktek pendidikan serta pada dasarnya bersifat direktif. Istilah direktif memberi makna bahwa pendidikan itu mengarah pada tujuan yang pada hakekatnya untuk mencapai kesejahteraan bagi subjek didik.
2. Hubungan Pendidikan dengan Pengajaran
Pada dasarnya ”mengajar” adalah membantu ( mencoba membantu ) seseorang untuk mempelajari sesuatu dan apa yang dibutuhkan dalam belajar itu tidak ada kontribusinya terhadap pendidikan orang yang belajar. Artinya mengajar pada hakekatnya suatu proses, yakni proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga menumbuhkan dan mendorong siswa belajar.Hal ini akan dapat terwujud jika dilakukan melalui proses pengajaran dengan strategi pelaksanaan melalui :
1. Bimbingan yaitu pemberian bantuan,arahan,motivasi,nasihat dan penyuluhan agar siswa mampu mengatasi,memecahkan dan menanggulangi masalahnya sendiri.
2. Pengajaran yaitu bentuk kegiatan dimana terjalin hubungan interaksi dalam proses belajar dan mengajar antara tenaga kependidikan dengan peserta didik.
3. Pelatihan yaitu sama dengan pengajaran khususnya untuk mengembangkan keterampilan tertentu.
Menurut Langford (1978) yang penting hubungan yang relevan bukanlah antara pengajaran dengan pendidikan tetapi antara pengajaran sebagai suatu profesi dengan pendidikan.
3. Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan adalah menghilangkan segala sumber penderitaan rakyat dari kebodohan dan ketertinggalan. Sedangkan menurut UUSPN No.20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Fungsi Pendidikan mempunyai fungsi untuk mengadakan perubahan sosial mempunyai fungsi (1) melakukan reproduksi budaya, (2) difusi budaya, (3) mengembangkan analisis kultural terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisional, (4) melakukan perubahan-perubahan atau modifikasi tingkat ekonomi sosial tradisional, dan (5) melakukan perubahan-perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional yang telah ketinggalan.

Sekolah berfungsi sebagai reproduksi budaya menempatkan sekolah sebagai pusat penelitian dan pengembangan. Fungsi semacam ini merupakan fungsi pada perguruan tinggi. Pada sekolah-sekolah yang lebih rendah, fungsi ini tidak setinggi pada tingkat pendidikan tinggi.

Pada masa-masa proses industrialisasi dan modernisasi pendidikan telah mengajarkan nilai-nilai serta kebiasaan-kebiasaan baru, seperti orientasi ekonomi, orientasi kemandirian, mekanisme kompetisi sehat, sikap kerja keras, kesadaran akan kehidupan keluarga kecil, di mana nilai-nilai tersebut semuanya sangat diperlukan bagi pembangunan ekonomi sosial suatu bangsa. Usaha-usaha sekolah untuk mengajarkan sistem nilai dan perspektif ilmiah dan rasional sebagai lawan dan nilai-nilai dan pandangan hidup lama, pasrah dan menyerah pada nasib, ketiadaan keberanian menanggung resiko, semua itu telah diajarkan oleh sekolah sekolah sejak proses modernisasi dari perubahan sosial Dengan menggunakan cara-cara berpikir ilmiah, cara-cara analisis dan pertimbangan-pertimbangan rasional serta kemampuan evaluasi yang kritis orang akan cenderung berpikir objektif dan lebih berhasil dalam menguasai alam sekitarnya.

Lembaga-lembaga pendidikan disamping berfungsi sebagai penghasil nilai-nilai budaya baru juga berfungsi penghasil nilai-nilai budaya baru juga berfungsi sebagai difusi budaya (cultural diffission). Kebijaksanaan-kebijaksanaan sosial yang kemudian diambil tentu berdasarkan pada hasil budaya dan difusi budaya. Sekolah-sekolah tersebut bukan hanya menyebarkan penemuan-penemuan dan informasi-informasi baru tetapi juga menanamkan sikap-sikap, nilai-nilai dan pandangan hidup baru yang semuanya itu dapat memberikan kemudahan-kemudahan serta memberikan dorongan bagi terjadinya perubahan sosial yang berkelanjutan.

Fungsi pendidikan dalam perubahan sosial dalam rangka meningkatkan kemampuan analisis kritis berperan untuk menanamkan keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai baru tentang cara berpikir manusia. Pendidikan dalam era abad modern telah berhasil menciptakan generasi baru dengan daya kreasi dan kemampuan berpikir kritis, sikap tidak mudah menyerah pada situasi yang ada dan diganti dengan sikap yang tanggap terhadap perubahan. Cara-cara berpikir dan sikap-sikap tersebut akan melepaskan diri dari ketergantungan dan kebiasaan berlindung pada orang lain, terutama pada mereka yang berkuasa. Pendidikan ini terutama diarahkan untuk mempenoleh kemerdekaan politik, sosial dan ekonomi, seperti yang diajukan oleh Paulo Friere. Dalam banyak negara terutama negara-negara yang sudah maju, pendidikan orang dewasa telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga masalah kemampuan kritis ini telah berlangsung dengan sangat intensif. Pendidikan semacam itu telah berhasil membuka mata masyarakat terutama didaerah pedesaan dalam penerapan teknologi maju dan penyebaran penemuan baru lainnya.

Pengaruh dan upaya pengembangan berpikir kritis dapat memberikan modifikasi (perubahan) hierarki sosial ekonomi. Oleh karena itu pengembangan berpikir knitis bukan saja efektif dalam pengembangan pnibadi seperti sikap berpikir kritis, juga berpengaruh terhadap penghargaan masyarakat akan nilai-nilai manusiawi, perjuangan ke arah persamaan hak-hak baik politik, sosial maupun ekonomi. Bila dalam masyarakat tradisional lembaga-lembaga ekonomi dan sosial didominasi oleh kaum bangsawan dan golongan elite yang berkuasa, maka dengan semakin pesatnya proses modernisasi tatanan-tatanan sosial ekonomi dan politik tersebut diatur dengan pertimbangan dan penalaran-penalaran yang rasional. Oleh karena itu timbullah lembaga-lembaga ekonomi, sosial dan politik yang berasaskan keadilan, pemerataan dan persamaan. Adanya strata sosial dapat terjadi sepanjang diperoleh melalui cara-cara objektif dan keterbukaan, misalnya dalam bentuk mobilitas vertikal yang kompetitif.
4.Tujuan pendidikan
Apakah Anda memahami tujuan pendidikan? Mengapa makna pendidikan dibedakan dengan pengajaran? Mengapa arti pendidik menjadi jauh lebih penting dari sekedar pengajar?
Ya, dalam pendidikan ikatan antara tanggung jawab dan proses pembelajaran serta hasil menjadi kesatuan utuh yang saling melengkapi.
Mendidik adalah kegiatan memberi pengajaran, membuat seorang memahami, dan dengan pemahaman yang dimiliki peserta didik dapat mengembangkan potensi diri dengan menerapkan apa yang dipelajari.
Proses itu dapat berlangsung seumur hidup dan pencapaian tujuan pendidikan tidak akan berhenti saat kehidupan seseorang berakhir.
Dalam kurikulum terbaru yang dirilis pemerintah saat ini, (KTSP -Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), sekolah menjadi penyelenggara pendidikan yang berhak menentukan sendiri indikator bagi setiap kompetensi dasar dari semua mata pelajaran.
Apakah hak itu digunakan untuk menentukan desain yang tepat dan selaras dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya?
Dalam minggu-minggu awal, peserta didik tingkat sekolah dasar akan dihadapkan dengan tiga tema sentral -mengenal diri, keluarga, dan lingkungan. Tentu saja tema yang dipilih itu baik adanya untuk memperkenalkan kehidupan kepada anak.
Tapi akan lebih baik lagi jika sebelum tema tersebut dipelajari, peserta didik dikenalkan kepada tema lain yang lebih mendasar dan mendalam, yaitu Sang Pencipta. Dengan demikian, mereka akan memahami keberadaan dirinya di alam semesta dan dilatih untuk memuliakan Tuhan dalam kesehariannya.
Dengan mempelajari tema dasar ini, peserta didik akan dibawa ke satu ruangan belajar yang lebih besar daripada ruang kelas. Seluruh alam adalah ruang kelas. Karena keterangan dan kisah tentang penciptaan ada di kitab suci, maka kitab suci haruslah memiliki porsi terbanyak dan terutama.
Tujuan pendidikan sejati tidaklah hanya mengisi ruang-ruang imajinasi dan intelektual anak, mengasah kepekaan sosialnya, ataupun memperkenalkan mereka pada aspek kecerdasan emosi, tapi lebih kepada mempersiapkan mereka untuk mengenal Tuhan dan sesama untuk pencapaian yang lebih besar bagi kekekalan.
Tujuan pendidikan secara umum dapat dilihat pada:
  1. UU No2 Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan dan bertagwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
  2. Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP MPR NO II/MPR/1993 yaitu  Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani.

    Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para
    pahlawan, serta berorientasi masa depan.
  3. TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945, Bab II (Pasal 2, 3, dan 4)





MAKALAH ANALISA RUMAH SAKIT

MAKALAH ANALISA RUMAH SAKIT




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

            Dalam ilmu ekonomi dikatakan bahwa “tarif” adalah nilai suatu barang atau jasa yang ditetapkan berdasarkan ukuran sejumlah uang tertentu dimana dengan sejumlah uang tersebut, pelaku usaha (produsen) bersedia memberikan barang atau jasa kepada konsumen.
            Dalam pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan kesehatan milik pemerintah seperti puskesmas dan rumah sakit, tarif biasanya ditetapkan oleh pemerintah secara sepihak tanpa suatu kajian yang rasional (melakukan perhitungan unit cost). Tarif ini biasanya ditetapkan melalui suatu peraturan pemerintah yakni dalam bentuk surat keputusan menteri kesehatan untuk rumah sakit umum pusat, dan peraturan daerah (perda) untuk rumah sakit umum provinsi, rumah sakit umum kabupaten/kota maupun puskesmas. Hal ini menunjukan adanya kontrol ketat dari pemerintah sebagai pemilik sarana pelayanan tersebut. Akan tetapi disadari bahwa tarif pemerintah biasanya mempunyai “cost recovery” yang rendah (Trisnantoro, 2004)
            Idealnya penetapan tarif pelayanan kesehatan harus dikaji secara rasional terlebih dahulu (melakukan analisis unit cost) dan ditetapkan setiap tahunnya untuk dilakukan penyesuaian.
            Dalam era teknologi yang semakin canggih, Rumah Sakit dalam mengemban misinya banyak mengalami masalah terutama masalah sumber daya yang semakin lama semakin sulit mengejar kebutuhan pelayanannya, ditambah lagi pemberian subsidi pemerintah untuk pelayanan kesehatan semakin lama semakin berkurang terutama pasca otonomi daerah.
B.     Rumusan Masalah

Sebagaimana kami kemukakan diatas, pada alasan penyempitan pembahasan makalah ini, maka untuk mempersempit pembahasan yang terlalu luas pada paparan makalah ini. Kami cofer pada perumusan makalah di bawah ini. Adapun yang akan kami bahas pada makalah ini meliputi :

1.      Apa yang dimaksud dengan Analisis Biaya?
2.      Apa Pengertian Analisis Biaya?
3.      Sebutkan masalah-masalah dalam pemasaran yang barkaitan dengan Analisis Biaya?
4.      Bagaimana langkah-langkah perencanaan Analisis Biaya?
5.      Bagaimana langkah-langkah untuk suksesnya Analisis Biaya?
6.      Apa dampak dari Analisis Biaya?

C.    Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi dasar tujuan penulisan makalah Kompetisi Sumber Daya Perusahaan ini meliputi tujuan akademik dan tujuan apliktif yaitu :
1)      Tujuan akademik, secara khusus penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “Ekonomi Kesehatan” yang sebagai dosen pengajarnya adalah Bapak Drs.H. Ucup Tahar,MM. Dan secara umum pembuatan makalah ini dalam rangka memperluas khasanah keilmuan Analisis Biaya.

2)      Tujuan aplikatif, mengingant dari mayoritas mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat khususnya semester V (Lima) masih kurang dalam keilmuan tentang Sumber daya Perusahaan, sehingga diharapkan makalah ini sebagai bahan kajian awal para mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu Ekonomi Kesehatan yang berhubungan dengan Analisis Biaya. Juga diharapakn   sebagai referensi keilmuan khususnya ilmu kesehatan masyarakat.

D.    Sistematika Penulisan

Penelitian ini ditulis berdasarkan kaidah penulisan ilmiah dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Pada bab ini berisikan tentang diskripsi pendahuluan makalah, mengenai hal – hal yang melatar belakangi permasalahan, perumusan masalah, tujuan Pembuatan Makalah, serta sistematika penulisan.
BAB II Pembahasan
Pada bab ini diuraikan tentang pembahasan atau isi dari makalah yang meliputi pengertian, masala-masalah pemasaran, perencanaan sumberdaya perusahaan, langkah-langkah untuk suksesnya pemasaran serta dampak dari kompetisi perusahaan.
BAB VI Penutup
Pada bagian penutup ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan yang diperoleh berdasarkan isi makalah ini. Sedangkan saran diberikan kepada pihak – pihak yang terkait dan permohonan saran kepada kami untuk perbaikan mendatang.


 

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Analisis Biaya         
            Analisis biaya adalah suatu proses mengumpulkan dan mengelompokkan data keuangan rumah sakit untuk memperoleh dan menghitung bidya output jasa pelayanan rumah sakit. Secara khusus tujuan keoiatan analisis biaya adalah mendapatkan gambaran mengenai unit atau badian yang merupakan pusat biaya (Cost Center ), Pusat pendapatan ( revenue center ), dan gambaran mengenai biaya investasi, biaya operasional biaya pemeliharaan pendapatan rumah sakit serta biaya satuan pelatanan rumah sakit.
B.   Prinsip Dasar Analisis Biaya Rumah Sakit

a.       Analisis biaya dilakukan untuk biaya yang dikeluarkan dalam kurun waktu satu tahun anggaran.

b. Melakukan pemetaan biaya klasifikasi biaya dan lokasi biaya

c. Melakukan penyederhanaan semua biaya dari berbagai sumber menjadi biaya operasional dan biaya investasi

d. Biaya operasional yaitu biaya yang dikeluarkan berdifat berulang-ulang misalnya setiap bulan.

e. Biaya investasi biasanya tidak berulang dan berlangsung setahun atau lebih misalnya biaya pembelian alat-alat medis, pembangunan gedung.

f. Untuk menghitung biaya asli pada masing-masing pusat biaya harus memperhatikan unsur biaya yang dibutuhkan oleh pusat biaya tersebut.Pusat biaya adalah unit kerja yang memerlukan biaya untuk menjalankan misi yang diembannya. Dirumah sakit pada dasarnya adalah pusat biaya ( Cost Center) baik yang menghasilkan ( Pusat Pendapatan ) maupun yang tidak menghasilkan pendapatan ( pusat Pengeluaran ). Unit yang menghasilkan pendapatan disebut pusat biaya produksi ( revenue center ) dan yang tidak menghasilkan pendapatan disebut pusat biaya penunjang.

g. Untuk menghitung biaya satuan (Unit Cost ) unit pelayanan tertentu, seperti rawat inap yang dihasilkan dipusat biaya produksi. Semua biaya yang terpakai di pusat biaya penunjang perlu didistribusikan kepusat biaya produksi.

h. Dalam rangka pendistribusian biaya ( dari pusat biaya penunjang kepusat biaya produksi) harus diperhatikan data dasar alokasi yang sebaiknya dilakukan.
C.   Manfaat Analisis Biaya

 a.  Diperolehnya jumlah biaya (total cost) dari satu unit produksi rumah sakit dan biaya satuan  (unit cost) dari tiap-tiap output rumah sakit. Informasi ini diperlukan untuk alokasi dana dan perencanaan rumah sakit.

      b.  Menentukan tarif dari berbagai jenis pelayanan rumah sakit tergantung dari tujuan dan                    jenis rumah sakit, maka tarif disusun dapat juga bervariasi. Pada umumnya rumah                     sakit dapat dibagi atas 3 jenis yaitu rumah sakit yang bersifat mencari keuntungan              (Profit motive oriented) daimana tarifnya adalah unit cost ditambah keuntungan, yang                    kedua rumah sakit yang profitnya untuk investasi atau mengganti bararig¬barang                        yang aus dimana tarifnya sama dengan unit cost dan bid~a investasi pengembangan (             dengan catatan pada perhitungan unit cd9t telah dihitungkan biaya penghapusan ),                        yang ketiga adalah rumah sakit nirlaba (not for profit) dimana biaya investasi dapat                   didistribusi dari pemerintah atau pemilik rumah sakit bersangkutan dimana biaya                                investasi sama dengan unit cost ( pada perhitungan unit cost tidak diperhitungkan                            penghapusan ).

      c.   Peningkatan efesiensi

            Dengan analisis biaya maka dapat diidentifikasi pusat-pusat biaya (cost centers) yang        strategis dalam rangka upaya efisiensi rumah sakit.

 d.   Analisis rugi – laba

            Analisis biaya dapat dilakukan bersama-sama dengan perkiraan pendapatan (revenue)               rumahsakit.


      e.   Secara mikro

            Analisis biaya dapat dimanfaatkan oleh direktur rumah sakit sebagai bahan             pertimbangan atau negosiasi dengan pembayaran pihak ketiga misalnya Asuransi          Kesehatan ( PT.Askes, PT.Jamsostek dan asuransi lainnya) sebagai alat untuk    mengawasi dan mengendalikan biaya secara periodik sebagai laporan rumah sakit     pada pemegam saham atau pemilik.

D.    Langkah-langkah Dalam Analisis Biaya

a.    Langkah pertama

          Melakukan identifikasi sumber biaya yang didalpat oleh rumah sakit untuk   melaksanakan kegiatannya. Untuk itu diperlukan adanya rincian setiap adanya biaya     yang dikeluarkan tanpa

     b. Langkah kedua

          Melakukan identifikasi pusat-pusat biaya (cost centers) yang terdapat dalam rumah sakit yaitu setiap unit struktural maupun fungsional dalam rumah sakit yang          memerlukan biaya dalam melaksanakan kegiatannya. Umumnya pusat-pusat biaya ini          dapat dikelompokkan dalam dua jenis yakni.

          1). Pusat biaya pemasukan / produksi (revenue producing cost centersn yaitu unit yang               langsung memberikan pelayanan kepada pasien atau dapat dikatakan unit yang                                     dapat mengklaim langsung output pasien, contoh unit rawat inap.

          2). Pusat biaya pengeluaran / produksi (non revenue producing centers) yaitu unit yang                   keberadaannya menunjang unti produksi, contoh instalasi gizi, apotek, bagian                                    keuangan.

     c.  Langkah ketiga

          Menghitung besarnya biaya asli dari tiap-tiap unit penunjang dan produksi yang       diuraikan menurut jenis biaya ( investasi dan operasional ) dan komponen-    komponennya. Komponen biaya investasi antara lain biaya gedung, peralatan medis         dan non medis. Komponen biaya oprasional antara lain, honorarium, obat, alat tulis           medis (kasa, kapas dll). Biaya ash setiap unit penunjang dan produksi ini adalah semua        biaya yang telah digunakan untuk waktu tertentu, biasanya satu tahun.
          Untuk menghitung biaya investasi dalam setahun termasuk biaya penyusutan, dalam            hal ini mengdunakan metode Annualized Invesment Cost (AIC)

     d. Langkah keempat

          Setelah hasil dari langkah ketiga diperoleh, maka langkah selanjutnya yaitu   memindahkan biaya asli setiap unit penunjang kesetiap unit produksi yang terkait. Hal        ini disebut dengan mengalokasikan biaya karena pada dasarnya unit penunjang akan             memindahkan biaya asli yang secara berbeda jumlahnya ke unit-unit produksi terkait,             maka tidak akan ada lagi biaya yang tersisa disatu unit penunjang.

          Dengan demikian biaya akhir yang ada disetiap unit produksi itu sendiri ditambah dengan biaya tindakan dari unit penunjang. Untuk mendapatkan biaya satuan (unit cost) layanan yang diberikan selama setahun yang sama. Kegiatan alokasi biaya ini dilakukan untuk setiap jenis biaya dan komponennya masing-masing.
            Untuk dapat dilakukan alokasi biaya dengan benar maka harus dilakukan dua langkah.
1). Langkah pertama
     Melakukan identifikasi hubungan atau kaitan antara unit penunjang dengan unit produksi.
2). Langkah kedua
     Menentukan ukuran dasar alokasi yang akan digunakan artinya kalau ingin dialokasikan biaya dari bagian administrasi keunit lainnya, maka harus ditentukan lebih dahulu ukuran ukuran dasar yang dipakai, dalam hal ini biasanya digunakan jumlah pegawai.
            Dengan demikian setiap alokasi biaya dari bagian administrasi akan dialokasikan dengan. menggunakan jumlah seluruh pegawai rumah sakit sebagai penyebut dan jurrilah pegawai di unit yang bersangkutan sebagai betikut :
a). Cuci ! Laudry ; jumlah potong pakaian , jumlah kg yang dicuci
b). Kebersihan ; meter persegi luas lantai
c). Dapur ; porsi makan
d). Umum ; volume biaya yang terdapat di masing – masing unit
            Adapun beberapa metode yang dapat digunakan menditribusikan biaya dari unit – unit penunjang ke unit produksi dari metode yang sederhana sampai yang amat rumit ( Young.1984 )
1) Simple Distribution Method
            Metode ini adalah yang paling sederhana dalam pelaksanaan perhitungan metode ini mengabaikan adanya kemungkinan kaitan antara unit penunjang dengan unit produksi.                                   Dengan demikian halnya akan terjadi alokasi biaya dari unit penunjang ke unit produksi dengan menggunakan dasar alokasi yang sesuai dengan uit penunjang masing – masing.

2) Stepdown Method
            Perbedaan dasar metode ini dengan simple distribution yaitu pada pengakuan metode ini terhadap adanya secara nyata hubungan atau kaitan antara unit penunjang itu sendiri.
            Dengan demikian, kAma dalam perhitungan akan lebih kompleks dibandingkan dengan simple ditribution, kaitan antara sesama unit penunjang dan unit produksi ini harus terlebih dahulu ditentukan , dalam hal ini harus ditentukan unit penunjang mana yang paling banyak memberikan kontrubusinya akan diletakan pada urutan tertinggi dalam susunan alokasi biaya , sedangkan yang paling kecil konnstribusinya akan diletakan pada urutan yang paling bawah..Dalam proses alokasi selanjutnya, sesuai unit penunjang yang paling banyak konstribusinya telah dialokasikan biaya aslinya, maka unit ini tidak akan mendapat alokasi lagi dari unit diperingkat lebih rendah.
3) Double Distribution Methode
            Secara teknis metode ini hampir semua dengan metode stepdown, perbedaannya hanya pada cara alokasi biaya yang dilakukan pada dua tahap . Selain itu adanya konstribusi antara unit penunjang dilakukan secara nyata artinya dalam hal ini biaya aslinya . Dengan demikian pada unit penunjang tersebut mempunyai kemungkinan mendapat biaya alokasi dari unit penunjang lainnya.
            Pada tahap kedua, seluruh biaya yang ada di unit penunjang dipindahkan ke seluruh unit produksi terkait untuk mendapatkan biaya total dari unit produksi. Setelah didapat biaya ash dan biaya alokasi yang didapat maka biaya satuan dari jasa layanan tersebut dapat diketahui dengan membagi jumlah Iayanan yang diberikan unit tersebut selama kurun waktu tertentu.

4) Multiple Distribution

            Alokasi biya dilakukan berulang – ulang termasuk juga antara sesama unit produksi. Dari keempat metode tersebut, berdasarkan beberapa pengalaman ternyata metode distribusi ganda (double distribution) yang cocok untuk dilakukan karena alokasi antar unit produksi tidak perlu dilakukan.



BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Analisis Biaya dapat dikatakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan kesehatan. Keberhasilan sebuah lembaga kesehatan dalam menyelenggarakan pendidikan yang bermutu juga tidak terlepas dari perencanaan anggaran yang mantap, alokasi yang tepat sasaran dan efektif sehingga membuat seluruh komponen lembaga pendidikan tersebut bersinergi dan memberikan hasil yang optimal dalam pencapaian tujuan.
Dan tidak bisa dipungkiri bahwa analisis manfaat biaya kesehatan menjadi bahan perhatian yang penting bagi pemerintah, masyarakat, dan para penyelenggara kesehatan untuk menentukan langkah progresif dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
B.       Saran
            Apabila pembaca menginginkan pembahasan makalah Ekonomi Kesehatan ini lebih detail, kami sarankan  untuk mencari buku referensi lain. Serta kami menantui pula kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan kami dimasa mendatang. Selain itu, diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari Sebagai Calon Sarjana Kesehatan Masyarakat.